Kilas Kabupaten Tegal
dibaca: 10519 kali.

TEGAL, tidak selalu identik dengan warteg atau warung tegal. Jika berkunjung ke Tegal, jangan lupa untuk mencoba minuman teh poci yang banyak dijual di warung-warung makan sepanjang jalan kota itu.Minum teh (Camelia sinensis), khususnya dari poci, bukan lagi sekadar kebiasaan bagi masyarakat Tegal, akan tetapi sudah menjadi tradisi. Pertumbuhan pabrik-pabrik teh di Tegal pada tahun 1930-an, telah menimbulkan tradisi minum teh di masyarakat. Kebiasaan minum teh yang berlangsung sejak zaman kolonial ini, hingga kini tidak pernah hilang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di sepanjang jalan di Kota Slawi, begitu sering ditemui iklan produk teh dengan beragam merek, karena Tegal memang memiliki banyak industri teh, besar maupun kecil. Kabupaten Tegal yang luas wilayahnya 878,49 kilometer persegi ini, memiliki beberapa perkebunan dan pabrik pengolahan teh yang cukup besar. Khusus untuk pabrik pengolahan teh yang memproduksi beberapa merek teh, terdapat PT Gunung Slamat yang produknya antara lain Teh Sosro dan Teh Poci. Selain itu ada pula PT Tunggul Naga yang memproduksi Teh Dua Tang dan Teh Tjatoet, dan CV Limas Jaya yang memproduksi teh Go Pek. Satu perusahaan lagi yang besar adalah Perusahaan Teh Cap Dua Burung yang memproduksi teh Tong Tjie. Kabupaten Tegal tergolong daerah agraris, karena sebagian besar penduduknya hingga saat ini masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama mereka. Sektor primer ini pun, menjadi kontributor utama Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 1999 dan tahun-tahun sebelumnya. Namun, sektor sekunder seperti industri pengolahan dan perdagangan, cukup besar mempengaruhi perekonomian daerah ini. Terbukti pada distribusi PDRB tahun 1999 itu, sektor perdagangan hanya 0,27 persen lebih kecil dibandingkan sektor pertanian. Di Kabupaten Tegal khususnya Kota Slawi, tanaman teh memang menjadi salah satu tanaman perkebunan utama. Hal ini ditunjang lagi dengan cukup banyaknya petani bunga melati, yakni bunga yang menjadi campuran jenis teh wangi. Petani bunga melati adalah mata rantai industri pengolahan teh. Jika industri-industri teh di Tegal terganggu produksinya, maka akan berimbas pula kepada para petani bunga melati. Untungnya, meski termasuk komoditas yang harganya berfluktuatif, jumlah produksi teh di Kabupaten Tegal setiap tahunnya walau kecil, cenderung terus meningkat. Yang disayangkan adalah, kepemilikan Tegal akan industri-industri besar tersebut, belum mampu meningkatkan pendapatan per kapita kota ini. PDRB per kapita harga berlaku tahun 1999 Kabupaten Tegal hanya Rp 1,3 juta, di bawah rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang besarnya Rp 3,2 juta. Selain itu, pemasukan industri teh ke kas Pemerintah Kabupaten Tegal melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga dirasa kurang. Dari lima jenis pajak yang ditangani Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), industri teh hanya menyumbang melalui pajak air bawah tanah. Oleh karena itu, untuk menambah kas PAD pada era otonomi sekarang ini, Kabupaten Tegal merencanakan untuk menghidupkan kembali 28 pajak, di antaranya pajak perusahaan, yang pernah dihapus pada awal masa reformasi dulu. *** TEH memang minuman ringan yang menyegarkan. Bahkan pasaran Teh Botol, produksi PT Sinar Sosro, tidak kalah dengan soft drink bersoda merek terkenal seperti Coca Cola, Sprite, dan semacamnya. Terlebih lagi minuman ini juga diyakini berkhasiat mencegah berbagai macam penyakit karena kandungan zat antioksidannya yang dikenal dengan polifenol. Oleh karena itu, minuman teh rasanya tidak akan pernah ditinggalkan. Walaupun menurut data survei sosial ekonomi nasional tahun 1999, konsumsi teh Indonesia sangat kecil, yaitu 0,8 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan masyarakat peminum teh seperti Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat mempunyai konsumsi teh 2,5-3 kg per kapita per tahun. Meski demikian, industri teh dapat terus maju dengan orientasi pasar luar negeri atau ekspor. Hal ini disebabkan, Indonesia merupakan salah satu negara produsen teh dunia. Produksi teh Kabupaten Tegal per tahun-meski jumlahnya terus meningkat-dapat dikatakan masih kecil. Dari data Dinas Perkebunan Kabupaten Tegal, jumlah rata-rata produksi teh selama lima tahun terakhir dari 1995-1999 adalah 470 ton atau 0,004 persen dari produksi nasional. Luas areal perkebunan teh sendiri di Tegal pada data tahun 1999 adalah 230,5 hektar. Oleh karena produksi yang masih sangat kecil tersebut, seluruh perusahaan teh di Kabupaten Tegal juga mendatangkan pasokan daun teh dari Jawa Barat. Provinsi ini merupakan sentra produksi teh terbesar di In-donesia. Dari data tahun 1998, Jawa Barat memasok sekitar 67 persen untuk produksi nasional. Pasokan daun dari perkebunan teh Jawa Barat ini kemudian diolah pabrik-pabrik di Tegal menjadi beberapa jenis minuman teh. Selain teh wangi melati (jasmine tea), diproduksi juga jenis teh hijau dan teh hitam. (Palupi Panca Astuti/Litbang Kompas ) Terus Memacu Pendapatan
JIKA tujuan diberlakukannya otonomi daerah sesuai amanat UU Nomor 22/1999 untuk pemberdayaan masyarakat dan potensi daerah, betapa ringannya upaya Pemerintah Kabupaten Tegal melaksanakan otonomi daerah. Tugas memberdayakan masyarakat agar mandiri, menjadi ringan karena masyarakat Kabupaten Tegal selama ini dikenal kreatif dan ulet dalam berusaha. Hal itu terbukti dengan usaha wiraswasta seperti usaha warung tegal (warteg) di Jabo-tabek dan sekitarnya, perajin kecil logam hingga mengolah lahan pertanian yang subur. Sebagai daerah yang luas wilayahnya 87.849 hektar dengan jumlah penduduk berdasarkan statistik 1999 sebanyak 1.335.856 orang, potensi wilayah yang bisa diberdayakan cukup komplet. Potensi itu ada di pantai, pedalaman dan pegunungan. Di dataran tengah yang merupakan lahan pertanian subur, serta di bagian selatan lahan dataran tinggi di lereng Gunung Slamet, potensial dikembangkan menjadi lahan agrobisnis dan pariwisata. Dengan kondisi saat ini, APBD 2000 Kabupaten Tegal Rp 133,9 milyar. Dari jumlah itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 9,6 milyar. Untuk tahun 2001, jumlah anggaran meningkat menjadi Rp 302,6 milyar, setelah ditunjang Dana Alokasi Umum (DAU) Rp 280,22 milyar dan PAD meningkat menjadi Rp 13 milyar lebih. *** BUPATI Tegal, Soediharto, mengakui, keuletan masyarakatnya mengembangkan wiraswasta menjadi modal utama memacu perekonomian rakyat. Untuk itu, penekanan pengembangan PAD dikemas dalam slogan Pertiwi (pertanian, industri, dan pariwisata) sebagai sektor penting. Ini didasarkan pada sektor pertanian menyumbang 26,70 persen terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), disusul industri pengolahan 24,1 persen dan sumbangan sektor pariwisata lebih dari 15 persen. Potensi pengusaha warteg tak boleh dianggap enteng. Sektor perdagangan cukup besar memberi sumbangan sampai 26,4 persen terhadap PDRB Kabupaten Tegal. Pengusaha warteg terbukti telah menciptakan desa-desa yang penduduknya kaya dari hasil warteg seperti Sidapurna, Sidapura, dan Banjaran. Ciri-ciri kreatif, ulet, dan mandiri seperti mental pengusaha warteg itulah yang kini dimanfaatkan Pemda Kabupaten Tegal memacu masyarakat lebih giat mengintensifkan sektor pertanian, pariwisata, dan perindustrian yang sudah cukup maju. Dikatakan, dalam sektor pertanian banyak lahan subur yang belum optimal digarap. Lahan pertanian sekitar 57.231 hektar mampu menghasilkan 337.840 ton padi. Jumlah ini belum termasuk hasil agrobisnis di daerah pegunungan yang meliputi wortel, bawang merah, bawang putih, dan kentang, juga palawija. Keahlian dalam industri logam, mengukuhkan Tegal ibarat Jepangnya Indonesia. Ini sekaligus jadi andalan bagi Pemda mendapatkan pemasukan melalui perdagangan hasil kerajinan dan industri kecil. Saat ini terdapat tiga lingkungan industri kecil (LIK) yang terkenal yakni LIK Takaru di Kramat, LIK Banjaran, dan LIK Talang. Di luar LIK, tumbuh desa-desa yang secara tradisional berkembang menjadi sentra kerajinan sesuai keahlian penduduk setempat. Pemda sebenarnya merencanakan menata LIK berdasar keterampilan perajin. Ada sentra perajin alat rumah tangga, alat pertanian, sentra onderdil otomotif, sentra industri logam dan kuningan, sentra tenun dan bordir, dan pusat industri mebel. Penataan LIK itu sejalan upaya menggalakkan sektor pariwisata di Kabupaten Tegal. Sektor pariwisata yang selama ini hanya mengandalkan Pemandian Air Panas Guci, wisata pantai Purwahamba Indah dan Waduk Cacaban, masih dianggap belum memberi sumbangan besar bagi pendapatan daerah. Ketiga obyek ini tahun 2000 dikunjungi sekitar 300.000 orang dengan total pendapatan Rp 600 juta lebih. "Pendapatan itu cukup besar, mengingat ketiga obyek wisata itu belum berkembang penuh. Ketiganya masih miskin investor," kata Bambang Setiono, Kepala Dinas Pariwisata. Menyadari masih banyak potensi pariwisata yang bisa dioptimalkan, Bupati Soediharto gencar memelopori program pariwisata baru. Pariwisata baru yang tengah digarap itu meliputi wisata industri ke sentra kerajinan dan industri kecil, wisata sejarah mengunjungi tempat bersejarah dan keramat serta wisata budaya di desa yang mempunyai tradisi budaya Islam maupun lokal. *** DALAM mengimbangi pelaksanaan otonomi daerah yang resmi diberlakukan 1 Januari 2001, Pemerintah Kabupaten Tegal melakukan perampingan struktur organisasi di jajaran pemda. Perampingan struktur yang diharapkan efektif dan efisien itu sudah selesai dan dituangkan dalam sebuah peraturan daerah. Dalam perampingan struktur itu, tercatat sekitar 600 personel yang dulunya menjabat kini hanya berstatus staf. Jumlah personel yang kehilangan jabatan ini cukup besar, sekitar 65 persen dari jumlah PNS yang mencapai 1.100 personel. Sebagai upaya pendekatan pelayanan ke masyarakat, termasuk program penyebaran personel, pemda juga mulai memekarkan desa atau kecamatan yang terlalu luas dan padat penduduknya. Kini sudah ada penambahan empat desa sehingga jumlahnya 281 desa, enam kelurahan, dan 18 kecamatan. "Perampingan ini sejalan napas otonomi daerah, di mana pemerintah kabupaten hanya bertindak selaku pelayanan dan memberi fasilitas bagi pemberdayaan masyarakat agar lebih sejahtera," kata Bupati Tegal. Untuk memudahkan koordinasi antarwilayah, Bupati Soediharto tidak melupakan pertumbuhan daerah pinggiran yang berbatasan dengan kabupaten dan kota paling dekat. Pemda Kabupaten juga mencanangkan kerja sama tiga daerah dalam kerangka Bergas, yakni Brebes, Tegal, dan Slawi. Adanya kerja sama itu, diharapkan memunculkan perdagangan saling melengkapi yang bermuara pada peningkatan ekonomi masyarakat di tiga daerah itu. Kerja sama ini untuk mencegah konflik yang timbul dari peningkatan pembangunan antarwilayah. Upaya Bupati Soediharto melakukan efisiensi struktur dan menempatkan personel sesuai bidangnya, menurut Ketua DPRD Tegal Agus Riyanto, sangat positif untuk menggugah semangat masyarakat berjuang bahu-membahu menghidupkan perekonomian di Kabupaten Tegal. (winarto herusansono)


PANCURAN 13 - Di obyek wisata air panas Guci, Tegal, Jawa Tengah, terdapat pemandian air panas terbuka dan tertutup. Tempat mandi terbuka yang paling terkenal adalah pancuran 13, di mana sumber air panas alami keluar langsung dari pancuran sebanyak 13, yang diyakini memberi tuah dan kesehatan bagi siapa saja yang mandi dibawahnya..



WarTeg.or.id Versi 5 (Online sejak Agustus 2005) 2005 - 2018 | Powered by JCow 4.2.1 Group Halaman Promo Bantuan Blogs Forums diskusi Hubungi kami